MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA
NAMA : RANI
RAMADHANI
NPM : 28214922
KELAS : 1
EB 32
Universitas
Gunadarma
PTA
2014-2014
BAB I
PENDAHULUAN
Masalah ekonomi merupakan masalah mendasar
yang terjadi disemua negara. Oleh karena itu, dalam menyikapi permasalahan
ekonomi tiap negara, masing-masing negara menganut sistem ekonomi yang sesuai
dengan kondisi dan ideologi negara yang bersangkutan. Sistem menurut
Chester A. Bernard, adalah suatu kesatuan yang terpadu, yang di dalamnya terdiri
atas bagian-bagian dan masing-masing bagian memiliki ciri dan batas tersendiri.
Suatu sistem pada dasarnya adalah “organisasi besar” yang menjalin berbagai
subjek (atau objek) serta perangkat kelembagaan dalam suatu tatanan tertentu.
Subjek atau objek pembentuk sebuah sistem dapat berupa orang-orang atau
masyarakat, untuk suatu sistem sosial atau sistem kemasyarakatan dapat berupa
makhluk-makhluk hidup dan benda alam, untuk suatu sistem kehidupan atau
kumpulan fakta, dan untuk sistem informasi atau bahkan kombinasi dari
subjek-subjek tersebut.
BAB II
ISI
II.I
SISTEM EKONOMI INDONESIA
Pengertian-pengertian Sistem Ekonomi
Menurut Dumairy : sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur
serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan
dalam ssuatu tatanan kehidupan. Menurut Sanusi : sistem ekonomi merupakan suatu
organisasi terdiri dari sejumlah lembaga yang sling mempengaruhi satu dengan
yang lainnya.
Sistem ekonomi di dunia
Sistem
yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang
dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut.
Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya
adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua
faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di
pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem
ekstrim tersebut.
Sistem Ekonomi Kapitalis dan Sosialis
a. Sistem Ekonomi Kapitalis
Dalam Sanusi,
sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sistem ekonomi dimana kekayaan yang
produktif terutama dimiliki secara pribadi dan produksi terutama dilakukan
untuk dijual.
System ekonomi liberal adalah system perekonomian yang menghendaki
kebebasan dalam sendi ekonomi.
Ciri – ciri system perekonomian LIBERAL (KAPITALIS) :
a. Setiap individu bebas memilih pekerjaan.
b. setiap individu bebas memiliki alat alat produksi
c. setiap individu bebas mengadakan persaingan
Kelemahan Sistem Ekonomi Liberal :
a. Tidak ada kekuatan yang dapat melindungi hak kepemilikan .
b. Orang yang tidak mempunyai sumber daya yang dijual akan menderita dan kelaparan.
c. Beberapa produsen akan berusaha memonopoli pasar dengan cara mengurangi persaingan
Ciri – ciri system perekonomian LIBERAL (KAPITALIS) :
a. Setiap individu bebas memilih pekerjaan.
b. setiap individu bebas memiliki alat alat produksi
c. setiap individu bebas mengadakan persaingan
Kelemahan Sistem Ekonomi Liberal :
a. Tidak ada kekuatan yang dapat melindungi hak kepemilikan .
b. Orang yang tidak mempunyai sumber daya yang dijual akan menderita dan kelaparan.
c. Beberapa produsen akan berusaha memonopoli pasar dengan cara mengurangi persaingan
b. Sistem Ekonomi Sosialis
Dumairy
menjelaskan, sistem ekonomi sosialis adalah adanya berbagai distorasi dalam
mekanisme pasar menyebabkan tidak mungkin bekerja secara efisien, dan bahwa
sistem ini bukanlah sistem ekonomi yang tidak memandang penting peranan capital.
Sistem ekonomi yang segala bentuk kegiatan ekonomi
dikuasai,dikelola, dan di kendalikan oleh Pemerintah Pusat . Negara penganut
yaitu RRC, POLANDIA RUMANIA, dll.
Ciri – ciri sistem perekonomian Sosialis.
a. Perekonomian diatur dan dikuasai oleh pemerintah.
Ciri – ciri sistem perekonomian Sosialis.
a. Perekonomian diatur dan dikuasai oleh pemerintah.
b.Produksi disesuaikan dengan dan daya beli masyarakat
c. Negara memiliki monopoli dalam hal yang menyangkut orang banyak
Kelemahan Sistem Ekonomi ETATISME(SOSIALIS) :
a. Pengelolaan perekonomian merupakan suatu hal yang rumit.
b. Tidak ada individu yang memiliki sumber daya
c. Tiap tiap individu mempunyai kebebasan yang relative terbatas dalam membuat ekonomi.
Kelemahan Sistem Ekonomi ETATISME(SOSIALIS) :
a. Pengelolaan perekonomian merupakan suatu hal yang rumit.
b. Tidak ada individu yang memiliki sumber daya
c. Tiap tiap individu mempunyai kebebasan yang relative terbatas dalam membuat ekonomi.
Persaingan terkendali
Berdasarkan sistem pemilikan sumber daya ekonomi atau
faktor-faktor produksi, tak terdapat alasan untuk menyatakan bahwa sistem
ekonomi kita adalah kapitalistik. Indonesia mengakui pemilikan individual atas
faktor-faktor produksi; kecuali untuk sumber daya yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara. Jadi secara konstitusional, sistem ekonomi
indonesia bukan kapitalisme dan bukan pula sosialisme.
Sehubungan dengan persaingan antarbadan-usaha, tidak terdapat
rintangan bagi suatu perusahaan untuk memasuki bidang usaha tertentu. Namun
untuk menghindari persaingan tak sehat dalam pasar barang tententu yang sudah
jenuh, pemerintah mengendalikannya dengan membuka prioritas-prioritas bidang
usaha.
II.2
SEJARAH EKONOMI INDONESIA
Sejarah Pra Kolonialisme
Sejarah Indonesia sebelum masuknya kolonialisme asing terutama
Eropa, adalah sejarah migrasi bangsa terhadap yang memiliki karakter atau sifat
utama berupa perang dan penaklukan satu suku bangsa atau suku bangsa atau
bangsa lainnya. Pada periode yang kita kenal sebagai zaman pra sejarah, maka
dapat diketemukan bahwa wilayah yang saat ini kita sebut sebagai Indonesia,
telah menjadi tujuan migrasi suku bangsa yang berasal dari wilayah lain. 2000
atau 3000 sebelum Masehi, suku bangsa Mohn Kmer dari daratan Tiongkok
bermigrasi di Indonesia karena terdesaknya posisi mereka akibat berkecamuknya
perang antar suku.
Kedatangan mereka dalam rangka mendapatkan wilayah baru, dan hal
tersebut berarti mereka harus menaklukan suku bangsa lain yang telah berdiam
lebih dulu di Indonesia. Karena mereka memiliki tingkat kebudayaan yang lebih
tinggi berupa alat kerja dan perkakas produksi serta perang yang lebih maju,
maka upaya penaklukan berjalan dengan lancar. Selain menguasai wilayah baru,
mereka juga menjadikan suku bangsa yang dikalahkanya sebagai budak. Pada
perkembangannya, bangsa-bangsa lain yang lebih maju peradabannya, datang ke
Indonesia, mula-mula sebagai tempat persinggahan dalam perjalanan dagang
mereka, dan kemudian berkembang menjadi upaya yang lebih terorganisasi untuk
penguasaan wilayah, hasil bumi maupun jalur perdagangan. Seperti misalnya
kedatangan suku bangsa Dravida dari daratan India -yang sedang mengalami puncak
kejayaan masa perbudakan di negeri asalnya- , berhasil mendirikan kekuasaan di
beberapa tempat seperti Sumatra dan Kalimantan.
Mereka memperkenalkan pengorganisasian kekuasaan dan politik
secara lebih terpusat dalam bentuk berdirinya kerajaan kerajaan Hindu dan
Budha. Berdirinya kerajaan-kerajaan tersebut juga menandai zaman keemasan dari
masa kepemilikan budak di Nusantara yang puncaknya terjadi pada periode
kekuasaan kerajaan Majapahit. Seiring dengan perkembangan perdagangan, maka
juga terjadi emigrasi dari para saudagar dan pedagang dari daratan Arab yang
kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan Islam baru di daerah pesisir pantai untuk
melakukan penguasaan atas bandar-bandar perdagangan. Berdirinya kerajaan Islam
telah mendesak kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha ke daerah pedalaman, dan mulai
memperkenalkan sistem bercocok tanam atau pertanian yang lebih maju dari
sebelumnya berupa pembangunan irigasi dan perbaikan teknik pertanian, menandai
mulai berkembangnya zaman feudalisme. Pendatang dari Cina juga banyak
berdatangan terutama dengan maksud mengembangkan perdagangan seperti misalnya
ekspedisi kapal dagang Cina di bawah pimpinan Laksamana Ceng Hong yang mendarat
di Semarang. Pada masa ini juga sudah berlangsung migrasi orang-orang Jawa ke
semenanjung Malaya yang singgah di Malaysia dan Singapura untuk bekerja
sementara waktu guna mengumpulkan uang agar bisa melanjutkan perjalanan ke
Mekah dalam rangka ziarah agama. Demikian juga orang-orang di pulau Sangir
Talaud yang bermigrasi ke Mindano (Pilipina Selatan) karena letaknya yang
sangat dekat secara geografis.
Era Pendudukan Jepang
Konstelasi peta
politik pada masa perang dunia II nampaknya berimbas pada konstelasi politik di
Indonesia, durasi penjajahan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama, karena
hanya berjalan hingga sekitar tahun 1945. Secara besar penjahan Jepang di
Indonesia diawali pasa bulan juni 1942. Bulan Maret 1945 Jepang membentuk Badan
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pertemuan pertamanya
pada bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan
individualisme perorangan. Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan radjiman
Widioningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi.
Kebijakan ekonomi
pada jaman penjajahan Jepang, terdiri atas :
1. Perluasan Areal
Persawahan
2. Pengawasan
Pertanian Dan Perkebunan.
Perluasan areal
persawahan guna meningkatkan produksi beras. Meskipun demikian produksi pangan
antara tahun 1941-1944 terus-menurun. Pada jaman Jepang hasil pertanian diatur
sebagai berikut: 40% untuk petani, 30% harus dijual kepada pemerintah Jepang
dengan harga yang sangat murah, dan 305 harus diserahkan ke lumbung desa. Badan
yang menanganimasalah pelanggaran disebut Kempetei (Korps Polisi Militer),
suatu badan yang sangat ditakuti rakyat. Jepang mengizinkan dua jenis tanaman
perkebunan yaitu karet dan kina kedua jenis tanaman itu berhubungan langsung
dengan kepentingan perang. Sedangkau tembakau, teh, kopi harus dihetikan
penanamannya Karena hanya berhubungan dengan kenikmatan. Jepang menduduki
Indonesia hanya tiga tahun setengah, sedangkan Belanda menjajah Indonesia
selama tiga abad.
Ekonomi Indonesia pada masa ORLA,ORBA, Reformasi
Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dituntut untuk mampu
menghidupi negaranya sendiri dalam berbagai aspek kehidupan, terutama aspek
ekonomi. Perkembangan ekonomi Indonesia mengalami perkembangan mulai masa
pemerintahan Presiden Soekarno yang dikenal dengan zaman Orde Lama. Kemudian
mengalami perkembangan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto yang dikenal
dengan zaman Orde Baru. Hingga zaman reformasi yang mengalami perubahan
besar-besaran dalam aspek ekonomi. Periode kekuasaan di Indonesia yaitu Orde
Lama, Orde Baru dan reformasi memiliki ciri khas masing-masing yang pada
akhirnya juga membawa dampak yang berbeda-beda bagi perkembangan ekonomi
Indonesia.
Orde Lama dibawah pimpinan Soekarno bersikap anti batuan asing dan
berorientasi ke dalam. Soekarno menyatakan bahwa nilai kemerdekaan yang paling
tinggi adalah berdiri di atas kaki sendiri atau yang biasa disebut “berdikari”
(Mas’oed, 1989:76). Soekarno tidak menghendaki adanya bantuan luar negeri dalam
membangun perekonomian Indonesia. Pembangunan ekonomi Indonesia haruslah
dilakukan oleh Indonesia sendiri. Bahkan Soekarno melakukan kampanye Ganyang
Malaysia yang semakin memperkuat posisinya sebagai oposisi bantuan asing.
Semangat nasionalisme Soekarno menjadi pemicu sikapnya yang tidak menginginkan
pihak asing ikut campur dalam pembangungan ekonomi Indonesia. Padahal saat itu
di awal kemerdekaannya Indonesia membutuhkan pondasi yang kuat dalam pilar
ekonomi. Sikap Soekarno yang anti bantuan asing pada akhirnya membawa
konsekuensi tersendiri yaitu terjadinya kekacauan ekonomi di Indonesia.
Soekarno cenderung mengabaikan permasalahan mengenai ekonomi negara,
pengeluaran besar-besaran yang terjadi bukan ditujukan terhadap pembangunan,
melainkan untuk kebutuhan militer, proyek mercusuar, dan dana-dana politik
lainnya. Soekarno juga cenderung menutup Indonesia terhadap dunia luar terutama
negara-negara barat. Hal itu diperkeruh dengan terjadinya inflasi hingga 600%
per tahun pada 1966 yang pada akhirnya mengakibatkan kekacauan ekonomi bagi
Indonesia. Kepercayaan masyarakat pada era Orde Lama kemudian menurun karena
rakyat tidak mendapatkan kesejahteraan dalam bidang ekonomi.
Kemudian fase baru dimulai dalam perkembangan Indonesia, yakni
masa Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto. Di era Orde Baru di bawah pimpinan
Soeharto, slogan “Politik sebagai Panglima” berubah menjadi “Ekonomi sebagai
Panglima”. Karena pada masa ini, pembangunan ekonomi merupakan keutamaan,
buktinya, kebijakan-kebijakan Soeharto berorientasi kepada pembangunan ekonomi.
Kepemimpinan era Soeharto juga berbanding terbalik dengan kepemimpinan era
Soekarno. Jika kebijakan Soekarno cenderung menutup diri dari negara-negara barat,
Soeharto malah berusaha menarik modal dari negara-negara barat itu.
Perekonomian pada masa Soeharto juga ditandai dengan adanya perbaikan di
berbagai sector dan pengiriman delegasi untuk mendapatkan pinjaman-pinjaman
dari negara-negara barat dan juga IMF. Jenis bantuan asing ini sangat berarti
dalam menstabilkan harga-harga melalui “injeksi” bahan impor ke pasar. Orde
Baru berpandangan bahwa Indonesia memerlukan dukungan baik dari pemerintah
negara kapitalis asing maupun dari masyarakat bisnis internasional pada
umumnya, yakni para banker dan perusahaan-perusahaan multinasional (Mochtar
1989,67). Orde Baru cenderung berorientasi keluar dalam membangun ekonomi.
Langkah Soeharto dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, tahap penyelamatan yang
bertujuan untuk mencegah agar kemerosotan ekonomi tidak menjadi lebih buruk
lagi. Kedua, stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi, yang mengendalikan inflasi
dan memperbaiki infrastruktur ekonmi. Ketiga, pembangunan ekonomi. Hubungan
Indonesia dengan negara lain dipererat melalui berbagai kerjasama, Indonesia
juga aktif dalam organisasi internasional, terutama PBB, dan penyelesaian
konflik dengan Malaysia. Awalnya bantuan asing sulit diperoleh karena mereka
telah dikecewakan oleh Soekarno, namun dnegan berbagai usaha dan pendekatan
yang dilakukan kucuran dana asing tersebut akhirnya diterima Indonesia. Ekonomi
Indonesia mulai bangkit bahkan akhirnya menjadi begitu kuat.
Sayangnya kekuatan ekonomi itu didapatkan dari bantuan asing yang
suka atau tidak harus dikembalikan. Suntikan bantuan dari Amerika Serikat
maupun Jepang cukup berperan besar dalam perbaikan ekonomi di Indonesia.
Begitupun dengan IMF yang dinilai sangat bermanfaat dalam memperjuangkan
Indonesia di hadapan para kreditor asing (Mas’oed, 1989:84). Namun, bantuan tersebut
tidak serta merta membuat Indonesia tumbuh dengan prestasi ekonomi, Indonesia
ternyata semakin terjerat keterpurukan perekonomian dalam negeri akibat
syarat-syarat dan bunga yang telah direncanakan negara penyuntik bantuan. Booth
(1999) menjelaskan kegagalan industri dalam negeri dipasar global serta terjun
bebasnya nilai rupiah juga menjadi warisan keterpurukan ekonomi pada Orde Baru
yang berorientasi pada pembangunan ekonomi keluar. Maka, kini hal tersebut
menjadi tantangan pemerintahan reformasi untuk menuntaskan permasalahan ekonomi
dalam negeri.
Reformasi ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto dan
diangkatnya BJ Habibie yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden menjadi
Presiden Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tidak mampunya Soeharto mengalami
permasalahan ekonomi serta semakin mewabahnya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).
Trauma zaman Orde Baru yang mengekang hak-hak demokrasi warga negara serta
kediktatoran Soeharto menyebabkan terjadinya perubahan menyeluruh dalam tiap
aspek kehidupan. Naiknya nilai tukar dollar secara tak tertahankan pada zaman
Orde Baru, menyebabkan naiknya berbagai kebutuhan pokok Indonesia. Namun,
secara perlahan nilai tukar dollar terhadap rupiah ini semakin menurun hingga
saat ini.
III.3
PBB PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI INDONESIA
Produk Domestic bruto
Perkiraan
perkembangan perekonomian Indonesia di masa depan masih cukup positif tetapi
telah direvisi oleh organisasi-organisasi internasional dan pemerintah
Indonesia karena ketidakpastian global yang berkepanjangan. Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (disingkat MP3EI) yang baru-baru ini
dikeluarkan, mencakup tahun 2011 sampai 2025, menunjuk enam sektor sebagai
koridor utama perekonomian dengan tujuan menempatkan Indonesia dalam sepuluh
besar perekonomian global pada tahun 2025. Rencana ini mengimplikasikan
investasi besar pada sektor infrastruktur - sektor yang selama ini menghambat
pertumbuhan ekonomi Indonesia - dan tujuan akhirnya adalah PDB akan naik per
tahunnya sebanyak delapan sampai sembilan persen. Namun, target tersebut
sepertinya terlalu ambisius jika ingin dicapai dalam waktu dekat (2014-2017).
Institusi-Institusi otoritas internasional (Bank Dunia, IMF dan Bank
Pembangunan Asia) memproyeksikan pertumbuhan PDB tahunan Indonesia dalam
kisaran 5.3 sampai 6.0 persen untuk periode 2014 sampai 2017.
Organisasi-organisasi ini menekankan bahwa reformasi politik dan ekonomi
praktis dikombinasikan dengan investasi besar dalam sektor infrasktruktur akan
menambahkan satu atau dua persen dari perkiraan pertumbuhan PDB saat ini.
Faktor faktor penentu prospek pertumbuhan
Ekonomi Indonesia
Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
ekonom Indonesia, secara umum adalah :
1. Faktor produksi
2. Faktor investasi
3. Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran
4. Faktor kebijakan moneter dan inflasi
5. Faktor keuangan negara
1. Faktor produksi
2. Faktor investasi
3. Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran
4. Faktor kebijakan moneter dan inflasi
5. Faktor keuangan negara
BAB III
PENUTUP
Dengan demikian maka sistem ekonomi Indonesia
adalah sistem ekonomi yang berorientasi kepadaKetuhanan Yang Maha Esa
(berlakunya etik dan moral agama, bukan materialisme); Kemanusiaan yang adil
dan beradab (tidak mengenal eksploitasi);Persatuan Indonesia(berlakunya
kebersamaan, asas kekeluargaan, sosio-nasionalisme dan sosiodemokrasi dalam
ekonomi); Kerakyatan (mengutamakan kehidupan ekonomi rakyat); serta Keadilan
Sosial (persamaan/emansipasi, kemakmuran masyarakat yang utama ± bukan
kemakmuran pribadi). Dari butir-butir tersebut, keadilan menjadi sangat utama
di dalam sistem ekonomi Indonesia.
Dalam sistem ekonomi pancasila, perekonomian
liberal maupun komando harus dijauhkan karena terbukti hanya menyengsarakan
kaum yang lemah serta mematikan kreatifitas yang potensial. Persaingan usaha
pun harus selalu terus-menerus diawasi pemerintah agar tidak merugikan
pihak-pihak yang berkaitan. Indonesia seharusnya sudah belajar pada krisis
ekonomi dan moneter yang mengguncang dunia pada tahun 1998, dengan hanya sektor
pertanian dan perkebunan yang tumbuh positif dan turut menyelamatkan ekonomi
domestik. Belajar dari kasus itu, Indonesia sudah saatnya memberi
perhatian utama pada bidang pertanian dan perkebunan, agar bisa keluar dari
krisis pangan yang kini mengancam dunia. Maka dari itu setiap komoditas harus
didekati secara spesifik karena masing-masing memiliki spesifikasi yang
berbeda.
PertumbuhanEkonomi di setiap negara berbeda -
beda tergantung dari tingkat pendapatan per kapita suatu negara tersebut dan
tergantung dari berapa besar pendapatan / penghasilan dari penduduknya. Jika
pendapatan Negara itu tinggi maka pertumbuhan ekonominya juga cepat tetapi
sebaliknya jika pendapatan suatu negara itu di bawah rata ± rata maka
pertumbuhan ekonominya juga rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Hendrojogi, 2004, Koperasi: Asas-asas, Teori dan Praktik. Jakarta:
PT Raja Grasindo Persada
Tugas Kuliah, 16 April 2012
http://tugaskuliah-adit.blogspot.com/2011/02/sistem-ekonomi-indonesia.html (diakses 16 April 2012)
Boediono. Ekonomi Nasional.
Yogyakarta : Badan Penerbit Fakultas Ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar