BAB I
Pendahuluan
Di era globalisasi sekarang ini banyak sekali perfilman
Indonesia yang menguak atau
pun menyinggung tentang hak asasi manusia, baik itu menyangkut hal agama, budaya, atau pun masalah-masalah social lainya.
Dan kami akan mengulas dan melihat bagian-bagian dari film tentang hak asasi manusia ini.
BAB II
Isi
Film Sang Pencerah
merupakan sebuah Film Maha karya sutradara Hanung Bramantyo yang menceritakan
tentang sejarah perjuangan hidup Muhammad Darwisy atau yang lebih dikenal
dengan KH.Ahmad Dahlan sampai berdirinya organisasi Muhammadiyah. Film Sang
Pencerah ini mengambil setting pada tahun 1800an dan di bintangi oleh Lukman
Sardi (pemeran KH Ahmad Dahlan), Zaskia Adya Mecca (Nyai Ahmad Dahlan),
Ikranegara (Kyai Abu Bakar), Sujiwo Tejo, Giring (KH Sudja, murid KH Ahmad
Dahlan) dan sejumlah artis pendukung lain seperti Ikranegara hingga Joshua
Suhermanyang berperan sebagai tokoh Hisyam muda. Beberapa budayawan juga
terlibat semisal Sitok Srengenge, Bambang Paningron dan Bondan
Nusantara.Sepulang dari Mekah, Darwis muda mengubah namanya menjadi Ahmad
Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat
Islam yang melenceng ke arah sesat, Syirik dan Bid'ah.
Dengan sebuah
kompas, dia menunjukkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini
diyakini ke barat ternyata bukan menghadap ke Ka'bah di Mekah, melainkan ke
Afrika.Usul itu kontan membuat para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung
Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat, meradang. Ahmad Dahlan, anak muda
yang lima tahun menimba ilmu di Kota Mekah, dianggap membangkang aturan yang
sudah berjalan selama berabad - abad lampau. Walaupun usul perubahan arah kiblat
ini ditolak, melalui suraunya Ahmad Dahlan mengawali pergerakan dengan mengubah
arah kiblat yang salah.Ahmad Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat,
menghasut dan merusak kewibawaan Keraton dan Masjid Besar.
Bukan sekali ini
Ahmad Dahlan membuat para kyai naik darah.Dalam khotbah pertamanya sebagai
khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung Kauman,
Yogyakarta."Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen,"
katanya.Walhasil, Dahlan dimusuhi. Langgar
kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjemaah dan mengajar mengaji,
bahkan sempat hancur diamuk massa
lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat. Dahlan,
yang piawai bermain biola, dianggap kontroversial.Ahmad Dahlan juga di tuduh
sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di
kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool
atau sekolah para bangsawan di Jetis, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan priyayi Jawa di Budi Utomo.Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah dan lima murid murid setianya : Sudja, Sangidu, Fahrudin, Hisyam dan Dirjo, Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan priyayi Jawa di Budi Utomo.Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah dan lima murid murid setianya : Sudja, Sangidu, Fahrudin, Hisyam dan Dirjo, Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
1.
Makna yang
terkandung dalam film
a.
Jangan mudah menyerah
Seperti kita tahu bahwa
perjuangan Ahmad Dahlan tidaklah mudah. Berkali-kali beliau dihina bahkan
dicaci maki sebagai seorang Kiai kafir, tetapi itu tidak menyurutkan semangat
beliau. Bahkan beliau terus berjuang hingga terbentuklah Muhammadiyah. Ini
mengindikasikan bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa tidaklah boleh
pantang menyerah walaupun rintangan terus datang.
b.
Teruslah belajar
Seperti kita tahu dalam film
dicerikan bahwa setelah mendapat gelar Kiai Ahmad Dahlan kembali ke mekah untuk
menuntut ilmu. Adegan ini sebenarnya memberi pesan bahwa kita tidak boleh
merasa puas dengan ilmu yang kita miliki sekarang. Bahkan, setelah pulang ke
tanah air, beliau kembali belajar kepada Budi Utomo tentang keorganisasian dan
belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Ini menandakan bahwa ilmu merupakan sesuatu
yang sangat berharga hingga kita harus terus mencarinya hingga ujung usia kita.
c.
Hilangkan fanatisme
Menurut saya setelah menelaah
berbagai media masa, ada satu kesimpulan yang dapat saya ambil yaitu bahwa
dalang dari perpecahan umat di indosesia khususnya adalah fanatisme. Mengapa
demikian? karena orang yang memiliki fanatisme akan lebih arogan dan akan
menganggap bahwa kelompok lain itu salah. Sehingga ketika diadakan dialog,
seringkali tidak akan menyelesaikan masalah karena orang yang seperti kriteria
diatas akan dikuasai egonya sehingga tidak akan mau menerima pendapat yang
lain.
d.
Manfaatkanlah segala sesuatu yang mendatangkan manfaat
Seperti kita tahu bahwa orang
pertama yang membuat madrasah Ibtidaiyah ala orang barat adalah Ahmad Dahlan.
Hal ini menunjukan bahwa beliau orang mobile sehingga untuk mencapai
tujuaanya beliau menggunakan hal-hal yang ada disekitarnya. Ini mempunyai pesan
bahwa kita harus membuka diri kita dan menggunakan segala yang ada disekitar
kita, asalkan hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama. Tentunya
sebelum kita bisa melakukannya, terlebih dahulu kita harus menghilangkan paham
fanatisme golongan yang ada di dalam diri kita. Kerena satu-satunya hal yang
dapat mencegah kita menggapai kemajuan adalah paham fanatisme itu sendiri.
2.
Hal-hal yang
menyangkut tentang HAM
Sang pencerah merupakan sebuah film yang
menceritakan tentang seorang tokoh yang mencoba melawan tradisi yang
menyengsarakan umat dan merubahnya ke arah yang lebih baik. Tapi sebenarnya
film ini, memuat hal-hal yang sensitif dan mudah menimbulkan konflik sosial. Dan setiap usaha yang
ditujukan untuk menyelesaikan masalah ini selalu berujung pada kegagalan.
Namun, sang sutradara berhasil membuat filmnya diterima oleh semua kalangan,
dan juga mendapatkan cap sebagai film yang inspiratif.
Hal ini diperburuk
dengan kaum agamawan muslim disana yang memaksakan upacara-upacara yang
memberatkan kaum abangan(golongan masyarakat yg menganut agama Islam, tetapi
tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan), sehingga agama islam disana
bukan menjadi rahmat tetapi, menjadi sesuatu yang ditakuti.
Jika kita telaah kita akan
melihat bahwa sistem feodal berkembang pesat di daerah Jogjakarta. Rupanya sistem
kasta peninggalan kerajaan Hindu Budha masih membekas dihati para petinggi
Jogjakarta. Ini mengakibatkan agamawan disana sedikit tinggi hati. Sehingga,
terkadang mereka tidak mau mendengarkan pendapat yang lain karena ada rasa
bahwa mereka lebih baik dari orang lain.
3.
Solusi
Sudah saatnya
Asahan memiliki lebih banyak lagi tokoh puritan [pemurnian] seperti KH. Ahmad
Dahlan, tidak hanya untuk pemurnian dan pencerahan sistem sosial serta praktik
beragama, tetapi juga bagi praktik berpemerintahan dan sistem sosial
kemasyarakatan yang kita rasa menyimpang dan mapan di Asahan. Kemapanan
yang menyimpang harus didobrak, dilawan dan diubah, karena pada hakikatnya
sebuah kemapanan adalah bentuk kemandegan yang bertentangan dengan sunatullah.
Allah tidak akan
mengubah nasib suatu kaum jika mereka tidak berusaha mengubah sendiri nasibnya.
Walaupun mungkin kita hanyalah segelintir orang atau bahkan seorang
diri merindukan perubahan untuk Asahan lebih bersih dan lebih sejahtera,
jangan pernah berkecil hati, apalagi merasa terasing. Fahrudin,
murid KH Ahmad Dahlan memberikan pesan yang luar biasa untuk melecut
semangat kita; “..sesungguhnya Islam hadir dalam keadaan terasing, dan
akan kembali dalam keadaan terasing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang
terasing itu karena sesungguhnya merekalah yang merapikan segala sesuatu yang
salah”
4.
Aplikasi dalam
kehidupan
Film sang Pencerah bagi saya
memiliki makna penting bahwa seorang pemimpin itu harus tegar dalam menghadapi
segala tantangan yang dihadapinya. Mampu bertahan dengan penuh kesabaran, dan
memiliki semangat tinggi dalam melawan kemungkaran. Faktor keteladanan juga
perlu dilakukan agar para pendidik mampu memberikan contoh yang baik kepada
para peserta didiknya. Mari
kita memperbaiki cara mengajar kita dan menjadi seorang pendidik yang mampu
menjadi sang pencerah bagi para peserta didiknya.
Setelah kita mengupas tuntas isi
film, hal selanjutnya yang akan saya lakukan adalah memaparkan pesan yang
terkandung dalam film tersebut. Mungkin, beberapa pesan telah saya paparkan
dalam analisis isi, tetapi itu hanya sebagian dari pesan yang terkandung dalam
film ini.
Bab III
Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar