Minggu, 04 Januari 2015

USAHA RUMPUT LAUT




BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua pertiga wilayah negaranya adalah laut dan lautan dengan 13.667 buah pulau besar maupun kecil, serta mempunyai garis pantai terpanjang di dunia, yaitu kurang lebih 80.791,42 km. Selain itu, kekayaan alam di dalamnya pun luar biasa banyaknya, terutama dengan keanekaragaman jenis hewan (fauna), tumbuh-tumbuhan (flora), serta bahan tambang dan mineral. Apalagi tingkat pencemaran laut indonesia relatif kecil, yaitu hanya sekitar 0,2 persen bila dibandingkan dengan pencemaran laut yang terjadi diseluruh dunia.
Rumput laut (sea weed) merupakan hasil perikanan yang bukan berupa ikan, tetapi berupa tanaman. Usaha budidaya ini mengingat potensi rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor nonmigas ternyata mempunyai prospek ekonomi yang cukup cerah.

 BAB II
ISI
Rumput laut termasuk beberapa jenis (species) dari alga atau ganggang, dimana alga ini dikenal sebagai ”vegetasi perintis” (tanaman perintis). Alga mengandung klorofil,  karotenoid, dan juga kromatophora (butiran-butiran zat warna), seperti hijau, biru, keemasan, dan lain sebagainya..
Di Indonesia sendiri, rumput laut mempunyai bermacam-macam nama, sesuai dengan daerah tempat dia ditemukan. Di pulau Jawa dikenal dengan nama kades, ganggang atau rambu kasang. Di pulau Bali disebut bulung, di pulau Lombok namanya lelusa. Sedang di kepulauan Maluku dikenal dengan nama arien.
          Habitat atau tempat hidup alga adalah di air, baik itu air tawar, payau, maupun laut, selain itu dapat pula di tanah yang lembab. Umumnya dia hidup sebagai plankton (jasad renik), yang terdiri dari:
  1. Zooplankton, plankton yang dapat bergerak sendiri.
  2. Phytoplankton, plankton yang tidak dapat bergerak sendiri, sifatnya lebih mendekati sifat tanaman.
  3. Benthos, yaitu ganggang atau alga yang hidup di dasar perairan, sedangkan yang hidupnya terapung disebut Neuston
Sebagian jenis alga lagi hidupnya menempel pada tumbuhan lain, hewan, karang yang mati, potongan karang, dan substrat keras lainnya, baik yang alami maupun buatan (artificial) yang biasa disebut periphyton.
Alga atau ganggang dapat diklasifikasikan menjadi tujuh divisi, berdasarkan pada pigmentasi yang ada di dalam tubuh alga, yaitu :
1.      Divisi Cyanphyta (alga biru)
Tepat hidup dari alga divisi ini umumnya di tempat lembab, air tawar, dan dapat hidup mulai dari suhu 0o-75o. Beberapa genus (marganya) ada yang hidup bebas, epifit (hidup pada kulit tumbuhan), epizoik (hidup pada kulit hewan), endofit (hidup dalam jaringan tumbuhan), dan menempel pada dasar perairan, juga ada yang bersimbiosis.
2.      Divisi Chlorophyta (Alga hijau)
Divisi Chlorophyta ini dibagi menjadi dua kelas, yaitu :
1.      Chlorophyceae (alga hijau)
Tempat hidupnya kelompok alga hijau ini umumnya pada tempat yang lembab, di air tawar, payau, maupun air laut, hidup bebas dan menempel, namun ada juga yang hidup secara epifit, endofit, epizoik, serta bersimbiosis.
Susunan tubuhnya ada yang bersel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (poliseluler), tetapi ada juga di antaranya yang membentuk kolomi dan filamen.
2.      Charophyceae (alga karang)
Tempat hidupnya, umumnya di dasar air tawar dan melekat. Susunan tubuhnya bersel tunggal, tetapi ada juga yang bersel banyak (poliseluler).
Alga karang ini memiliki persamaan dengan alga hijau. Persamaanya terletak pada cadangan makanannya, yaitu amilum dan lemak. Perkembangbiakannya, umumnya secara vegetatip dan gametik.
3.      Divisi Euglenophyta
Lingkungan hidupnya di kolom-kolom air tawar yang banyak bahan organik. Hidupnya sering dijumpai sebagai zooplankton dan endozoik. Susunan tubuhnya bersel tunggal dan ada sebagian yang hidupnya berkelompok. Pigmentasinya antara lain klorofil “a” dan “b”, serta karotenoidnya beta (β). Perkembangbiakannya secara vegetatif saja, yaitu dengan pembelahan longitudinal.
4.      Divisi Phyrophyta (alga api)
Divisi ini hanya mempunyai satu kelas saja, yaitu Dinophyceae (alga yang gerakannya memutar) Tempat hidup alga ini umumnya di air laut, tetapi ada juga beberapa jenisnya yang hidup di air tawar. Tubuhnya umumnya bersel tunggal. Pigmentasi yang dimiliki alga dari kelas Dinophyceae ini antara lain, klorofil “a” dan “c”. Perkembangbiakannya dapat terjadi secara vegetatif, sporik, maupun gametik.
5.      Divisi Chrysophyta (alga keemasan)
Divisi Chrysophyta atau alga keemasan ini dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu sebagai berikut :
1.      Xanthophyceae
Alga ini memiliki warna dominan kekuningan. Tempat hidupnya di air tawar, laut dan juga tanah yang agak lembab, dengan sifat hidupnya ada yang melekat dan ada pula yang bebas. Susunan tubuh dari alga ini adalah sel tunggal, dan ada juga yang membentuk filamen dan tubular. Pigmentasinya antara lain, klorofil ”a” dan ”c”. Perkembangbiakannya dapat terjadi secara vegetatif, sporik, maupun gametik.
2.      Chrysophyceae (alga keemasan)
Alga keemasan tempat hidupnya kebanyakan di laut, tetapi ada juga yang hidup di air tawar. Susunan tubuhnya umumnya bersel tunggal (uniseluler), dan ada juga yang membentuk koloni-koloni. Mengandung klorofil ”a” dan ”c”. Perkembangbiakannya umumnya secara vegetatif dan sporik.
3.      Bacillariophyceae (alga kersik, diatome)
Tempat hidup alga kersik atau diatome ini umumnya di air laut, namun ada juga sebagian yang hidup di air tawar dan tanah yang lembab. Susunan tubuhnya, umumnya bersel tunggal. Pigmentasi yang dimiliki alga dari kelas ini antara lain, klorofil ”a” dan ”c”. Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif dan gametik

6.      Divisi Phaeophyta (alga perang)
Lingkungan hidupnya umumnya di laut dan hanya sebagian kecil saja yang hidup di muara sungai yang berair payau. Susunan tubuhnya, umumnya bersel banyak (multiseluler) dan tubuhnya sudah dapat dibedakan antara helaian (lamina), tangkai (stipe), dan pangkal yang bentuknya menyerupai akar (haptera).
Pigmentasi yang dimiliki alga perang, antara lain, klorofil ”a” dan ”c”, sedangkan cadangan makanannya berupa Manitol (senyawa alkohol) dan Laminarin (senyawa karbohidrat). Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif, sporik, dan gametik.
7.      Divisi Rhodophyta (alga merah)
Tempat hidupnya di air laut, mulai dari tepi pantai sampai laut yang agak dalam. Untuk susunan tubuhnya, umumnya bersel banyak (multiseluler), tetapi ada juga yang bersel tunggal (misalnya Porphyridium) dan sering juga membentuk filamen (bengang).
Pigmentasi yang dimiliki alga merah antara lain, klorofil ”a” dan “d”. Cadangan makanannya berupa tepung florida. Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif, yaitu dengan fragmentasi, sporik dan gametik
 Manfaat Rumput Laut
Rumput laut telah lama digunakan sebagai makanan maupun obat-obatan di negeri Jepang, Cina, Eropa maupun Amerika. Diantaranya sebagai nori, kombu, puding atau dalam bentuk hidangan lainnya seperti sop, saus dan dalam bentuk mentah sebagai sayuran. Adapun pemanfaatan rumput laut sebagai makanan karena mempunyai gizi yang cukup tinggi yang sebagian besar terletak pada karbohidrat di samping lemak dan protein yang terdapat di dalamnya.
Di samping digunakan sebagai makanan, rumput laut juga dapat digunakan sebagai penghasil alginat, agar-agar, carrageenan, fulceran, pupuk, makanan ternak dan Yodium. Beberapa hasil olahan rumput laut yang bernilai ekonomis yaitu :
  1. Alginat, digunakan pada industri farmasi sebagai emulsifier, stabilizer, suspended agent dalam pembuatan tablet, kapsul;
  2. kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan cream, lotion, dan salep
  3. makanan : sebagai stabilizer, emulsifier, thickener, additive atau bahan tambahan dalam industri tekstil,
  4. Agar-agar, banyak digunakan pada industri/bidang : kertas, keramik, fotografi dan lain-lain ;
  
BAB III
PENUTUP

  1. Rumput Laut adalah sejenis alga yang memiliki zat warna yang juga disebut klorofil dengan berbagai macam warna.
  2. Habitat hidup rumput adalah di air, yaitu air tawar, laut, payau dan ada beberapa yang hidup di tanah yang lembab.
  3. Rumput laut dapat diklasifikasikan kedalam tujuh divisi, berdasarkan pada pigmentasi yang ada di dalam tubuh rumput laut itu sendiri, yaitu Cyanophyta (alga biru), Chlorophyta (alga hijau), Euglenophyta, Pyrophyta (alga api), Chrysophyta (alga keemasan), Phaeophyta (alga perang), Rhodophyta (alga merah).
Rumput Laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bahan dasar pembuat kosmetik, agar-agar, alginat dan juga dapat dibudidayakan
DAFTAR PUSTAKA

Perfilman Indonesia


BAB I
Pendahuluan

Di era globalisasi sekarang ini banyak sekali perfilman Indonesia yang menguak atau pun menyinggung tentang hak asasi manusia, baik itu menyangkut hal agama, budaya, atau pun masalah-masalah social lainya. Dan kami akan mengulas dan melihat bagian-bagian dari film tentang hak asasi manusia ini.

BAB II
Isi
Film Sang Pencerah merupakan sebuah Film Maha karya sutradara Hanung Bramantyo yang menceritakan tentang sejarah perjuangan hidup Muhammad Darwisy atau yang lebih dikenal dengan KH.Ahmad Dahlan sampai berdirinya organisasi Muhammadiyah. Film Sang Pencerah ini mengambil setting pada tahun 1800an dan di bintangi oleh Lukman Sardi (pemeran KH Ahmad Dahlan), Zaskia Adya Mecca (Nyai Ahmad Dahlan), Ikranegara (Kyai Abu Bakar), Sujiwo Tejo, Giring (KH Sudja, murid KH Ahmad Dahlan) dan sejumlah artis pendukung lain seperti Ikranegara hingga Joshua Suhermanyang berperan sebagai tokoh Hisyam muda. Beberapa budayawan juga terlibat semisal Sitok Srengenge, Bambang Paningron dan Bondan Nusantara.Sepulang dari Mekah, Darwis muda mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat, Syirik dan Bid'ah.
Dengan sebuah kompas, dia menunjukkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini diyakini ke barat ternyata bukan menghadap ke Ka'bah di Mekah, melainkan ke Afrika.Usul itu kontan membuat para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat, meradang. Ahmad Dahlan, anak muda yang lima tahun menimba ilmu di Kota Mekah, dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan selama berabad - abad lampau. Walaupun usul perubahan arah kiblat ini ditolak, melalui suraunya Ahmad Dahlan mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah.Ahmad Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, menghasut dan merusak kewibawaan Keraton dan Masjid Besar.
Bukan sekali ini Ahmad Dahlan membuat para kyai naik darah.Dalam khotbah pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung Kauman, Yogyakarta."Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen," katanya.Walhasil, Dahlan dimusuhi. Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjemaah dan mengajar mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat. Dahlan, yang piawai bermain biola, dianggap kontroversial.Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para bangsawan di Jetis, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan priyayi Jawa di Budi Utomo.Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah dan lima murid murid setianya : Sudja, Sangidu, Fahrudin, Hisyam dan Dirjo, Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.

1.    Makna yang terkandung dalam film
a.       Jangan mudah menyerah
Seperti kita tahu bahwa perjuangan Ahmad Dahlan tidaklah mudah. Berkali-kali beliau dihina bahkan dicaci maki sebagai seorang Kiai kafir, tetapi itu tidak menyurutkan semangat beliau. Bahkan beliau terus berjuang hingga terbentuklah Muhammadiyah. Ini mengindikasikan bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa tidaklah boleh pantang menyerah walaupun rintangan terus datang.
b.       Teruslah belajar
Seperti kita tahu dalam film dicerikan bahwa setelah mendapat gelar Kiai Ahmad Dahlan kembali ke mekah untuk menuntut ilmu. Adegan ini sebenarnya memberi pesan bahwa kita tidak boleh merasa puas dengan ilmu yang kita miliki sekarang. Bahkan, setelah pulang ke tanah air, beliau kembali belajar kepada Budi Utomo tentang keorganisasian dan belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Ini menandakan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga hingga kita harus terus mencarinya hingga ujung usia kita.
c.       Hilangkan fanatisme
Menurut saya setelah menelaah berbagai media masa, ada satu kesimpulan yang dapat saya ambil yaitu bahwa dalang dari perpecahan umat di indosesia khususnya adalah fanatisme. Mengapa demikian? karena orang yang memiliki fanatisme akan lebih arogan dan akan menganggap bahwa kelompok lain itu salah. Sehingga ketika diadakan dialog, seringkali tidak akan menyelesaikan masalah karena orang yang seperti kriteria diatas akan dikuasai egonya sehingga tidak akan mau menerima pendapat yang lain.
d.      Manfaatkanlah segala sesuatu yang mendatangkan manfaat
Seperti kita tahu bahwa orang pertama yang membuat madrasah Ibtidaiyah ala orang barat adalah Ahmad Dahlan. Hal ini menunjukan bahwa beliau orang mobile sehingga untuk mencapai tujuaanya beliau menggunakan hal-hal yang ada disekitarnya. Ini mempunyai pesan bahwa kita harus membuka diri kita dan menggunakan segala yang ada disekitar kita, asalkan hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama. Tentunya sebelum kita bisa melakukannya, terlebih dahulu kita harus menghilangkan paham fanatisme golongan yang ada di dalam diri kita. Kerena satu-satunya hal yang dapat mencegah kita menggapai kemajuan adalah paham fanatisme itu sendiri.
2.    Hal-hal yang menyangkut tentang HAM
Sang pencerah  merupakan sebuah film yang menceritakan tentang seorang tokoh yang mencoba melawan tradisi yang menyengsarakan umat dan merubahnya ke arah yang lebih baik. Tapi sebenarnya film ini, memuat hal-hal yang sensitif dan mudah menimbulkan konflik sosial. Dan setiap usaha yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah ini selalu berujung pada kegagalan. Namun, sang sutradara berhasil membuat filmnya diterima oleh semua kalangan, dan juga mendapatkan cap sebagai film yang inspiratif.
Hal ini diperburuk dengan kaum agamawan muslim disana yang memaksakan upacara-upacara yang memberatkan kaum abangan(golongan masyarakat yg menganut agama Islam, tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan), sehingga agama islam disana bukan menjadi rahmat tetapi, menjadi sesuatu yang ditakuti.
Jika kita telaah kita akan melihat bahwa sistem feodal berkembang pesat di daerah Jogjakarta. Rupanya sistem kasta peninggalan kerajaan Hindu Budha masih membekas dihati para petinggi Jogjakarta. Ini mengakibatkan agamawan disana sedikit tinggi hati. Sehingga, terkadang mereka tidak mau mendengarkan pendapat yang lain karena ada rasa bahwa mereka lebih baik dari orang lain.

3.    Solusi
Sudah saatnya Asahan memiliki lebih banyak lagi tokoh puritan [pemurnian] seperti KH. Ahmad Dahlan, tidak hanya untuk pemurnian dan pencerahan sistem sosial serta praktik beragama, tetapi juga bagi  praktik berpemerintahan dan sistem sosial kemasyarakatan yang kita rasa menyimpang dan mapan di Asahan.  Kemapanan yang menyimpang harus didobrak, dilawan dan diubah, karena pada hakikatnya sebuah kemapanan adalah bentuk kemandegan yang bertentangan dengan sunatullah.
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tidak berusaha mengubah sendiri nasibnya. Walaupun mungkin kita  hanyalah segelintir orang atau bahkan seorang diri  merindukan perubahan untuk Asahan lebih bersih dan lebih sejahtera,  jangan pernah berkecil hati, apalagi merasa terasing.  Fahrudin,  murid KH Ahmad Dahlan memberikan pesan yang luar biasa untuk melecut semangat kita;  “..sesungguhnya Islam hadir dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu karena sesungguhnya merekalah yang merapikan segala sesuatu yang salah”
4.    Aplikasi dalam kehidupan
Film sang Pencerah bagi saya memiliki makna penting bahwa seorang pemimpin itu harus tegar dalam menghadapi segala tantangan yang dihadapinya. Mampu bertahan dengan penuh kesabaran, dan memiliki semangat tinggi dalam melawan kemungkaran. Faktor keteladanan juga perlu dilakukan agar para pendidik mampu memberikan contoh yang baik kepada para peserta didiknya.  Mari kita memperbaiki cara mengajar kita dan menjadi seorang pendidik yang mampu menjadi sang pencerah bagi para peserta didiknya.
Setelah kita mengupas tuntas isi film, hal selanjutnya yang akan saya lakukan adalah memaparkan pesan yang terkandung dalam film tersebut. Mungkin, beberapa pesan telah saya paparkan dalam analisis isi, tetapi itu hanya sebagian dari pesan yang terkandung dalam film ini.

Bab III
Penutup


            Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA